REINTERPRETASI KONSEP QAULAN SADIDAN SEBAGAI COUNTER-NARRATIVE TERHADAP HOAKS DI ERA POST-TRUTH

Authors

  • Addin Kholisin STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang
  • Faridatus Sa'adah Malang Islamic University, East Java
  • Muhammad Nasril Ulul Albab Vice Chairman of Special Branch of Nahdlatul Ulama Japan

Keywords:

Etika Komunikasi Islam, Qaulan Sadidan, Post-Truth, Counter-Narrative, Media Sosial

Abstract

Fenomena post-truth telah mengubah lanskap komunikasi kontemporer dengan menempatkan emosi dan keyakinan personal sebagai determinan utama pembentukan opini publik, menggeser posisi fakta objektif yang selama ini menjadi fondasi rasionalitas sosial. Kondisi ini menciptakan ruang subur bagi proliferasi hoaks yang tidak hanya menyebarkan kebohongan, tetapi secara sistematis mengikis kohesi sosial dan kepercayaan terhadap institusi-institusi demokratis. Artikel ini mengajukan reinterpretasi atas konsep Qaulan Sadidan dalam tradisi Al-Qur'an sebagai kerangka etis sekaligus strategis untuk merespons tantangan tersebut melalui pendekatan counter-narrative. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini mengintegrasikan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i) atas ayat-ayat Qaulan Sadidan (QS. An-Nisa' [4]: 9 dan QS. Al-Ahzab [33]: 70-71) dengan analisis wacana kritis untuk menjembatani teks suci dan konteks sosial era post-truth. Temuan penelitian mengungkap bahwa reinterpretasi Qaulan Sadidan menghasilkan tiga pilar fundamental: validitas epistemik (haq) yang mewajibkan verifikasi atas setiap informasi, integritas komunikator (sidq) yang menekankan keselarasan antara ucapan dan niat, serta orientasi konstruktif (ishlah) yang mengarahkan komunikasi pada tujuan-tujuan perbaikan sosial. Ketiga pilar ini secara sinergis membongkar mekanisme disinformasi yang bertumpu pada hyper truth, bias konfirmasi, dan disorientasi nilai. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan teori etika komunikasi Islam melalui model integratif Haq-Sidq-Ishlah sekaligus menyediakan landasan konseptual bagi pengembangan program literasi digital yang berbasis nilai-nilai keislaman secara lebih substansial.

References

Abdullah, A. (2024). Persepsi dan respons mahasiswa terhadap berita hoax dan ujaran kebencian: Tinjauan berdasarkan Qaulan Sadidan dan Qaulan Balighan. Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam, 7(1), 45–68. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/peurawi/article/view/21558

Ath-Thabari, A. J. M. bin J. (2001). Tafsir Ath-Thabari: Jami' al-bayan 'an ta'wil ay al-Qur'an (Jilid 20). Dar Hijr.

Az-Zuhaili, W. (2009). Al-Tafsir al-munir fi al-'aqidah wa al-syari'ah wa al-manhaj (Jilid 11). Dar al-Fikr.

CBC. (2018, April 29). How "post-truth" entered the political mainstream. CBC Radio. https://www.cbc.ca/radio/sunday/the-sunday-edition-april-29-2018-1.4638038/how-post-truth-entered-the-political-mainstream-1.4638127

Chan, M., Vaccari, C., & Yamamoto, M. (2025). Cognitive drivers of misinformation belief and sharing on social media: A cross-national comparison. Mass Communication and Society, 1–19. Advance online publication. https://doi.org/10.1080/15205436.2025.2577294

Ependi, M., & Adenan, A. (2025). Qaulan Sadidan in QS. An-Nisa verse 9 and its ethical relevance for Generation Z's digital communication. Sinthop: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya, 4(2), 259–274. https://doi.org/10.69548/sinthop.v4.i2.66.259-270

Fairclough, N. (2013). Critical discourse analysis: The critical study of language (2nd ed.). Routledge.

Fauzi, Nurhasan, & Zahrani. (2025). Etika komunikasi Islam dalam era post-truth. https://jurnal.uibbc.ac.id/index.php/misykah/issue/view/213

Ibnu Katsir, I. A. A.-F. I. (1999). Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim (Jilid 6). Dar Thayyibah.

Jawa Pos. (2025, Oktober). 9 kebiasaan ini bikin kita gampang kena hoax, kamu juga sering melakukannya? Jawa Pos.

Khasanah, F. (2019). The Qur'anic communication ethics in social media. Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 14(1), 151–167. https://doi.org/10.21274/epis.2019.14.1.151-167

Kompas. (2025, Maret). Gelembung filter dan polarisasi: Bagaimana media sosial membentuk realitas. Kompas.

McIntyre, L. (2018). Post-truth. MIT Press.

Media Indonesia. (2025, September 22). Viral jadi palu hukum hanya gema. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/3462-viral-jadi-palu-hukum-hanya-gema

Muslim bin Hajjaj. (2005). Shahih Muslim (Kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Adab, Bab Qurb al-Jannah bi al-Shidq). Dar Thayyibah.

Mustaqim, A. (2019). Metode penelitian Al-Qur'an dan tafsir. Idea Press.

Palomo, M. (2025). Hypertruth and the foundations of disinformation: An aprioristic approach. Cogent Social Sciences, 11(1), 1–18. https://doi.org/10.1080/23311983.2025.2527522

Potts, T. (2026, January 19). How to rebuild trust in a post-truth world. Evidence for Democracy. https://evidencefordemocracy.ca/how-to-rebuild-trust-in-a-post-truth-world/

Rodriguez, D. (2026, January 1). The battle for truth: Navigating science, policy, and disinformation in a divided world. Glasp. https://glasp.co/hatch/diogo/p/PHbEymLn3hVhGvdgffW9

Shihab, M. Q. (2000). Tafsir Al-Misbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur'an (Vol. 2). Lentera Hati.

Talalu, T. R., Hafid, E., & Sakka, A. R. (2022). Hoaks dan etika berkomunikasi: Perspektif Al-Qur'an dan Hadis. Al-Aqwam: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir, 1(2), 85–99. https://doi.org/10.58194/alaqwam.v1i2.550

Tredinnick, L., & Laybats, C. (2019). The nature of truth and the challenges of misinformation. Business Information Review.

Published

2026-07-01

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 4 5 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.